Cerita Bangsari - Perjalanan

December 31, 2007

kreta11.jpg

Perjalanan ke bangsari dimulai pukul 19.15 dari stasiun KOTA, naik kereta ekonomi jurusan KROYA, Saya, Pitek, Ipoul, Cik Mithong, Jakober dan sejawat dikantor Ipoul berada disatu gerbong.

Ini untuk pertama kalinya saya naik kereta ekonomi dengan jarak jauh, yah kalo KRL Ekonomi bogor-kota sudah hafal betul apalagi waktu saya, jadi buruh diperusahaan media dicikini tapi itu sudah 2 tahun lalu. Jakarta - Bogor PP tiap hari. Naik digerbong 6, penumpang sudah sesak ternyata, berkawan kepul rokok, dan teriakan pedagang menjajakan dagangan.

Ternyata nomor kursi ditiket kami, sudah ada yang mendudukinya, dengan terpaksa kami meminta mereka untuk tukar tempat. Awalnya mereka sopan tapi sayang ujungnya pake menggerutu, saya jadi naik darah. Untung saja ada pitek yang menahan he he he, saya bisa kurus dikeroyok mereka dan mungkin orang satu gerbong.

Perjalanan dimulai, kereta meninggalkan stasiun KOTA menuju Kab.Cilacap tepatnya stasiun Gandrung Mangun. Saya baru tahu kalo kereta ini lewat jalur selatan, dari Jakarta ke arah Bandung dilanjutkan ke selatan Tasikmalaya, Ciamis dan Cilacap begitulah kata kang mas jakober yang ternyata adik angkat ipoul si eksekutif muda itu.

Baru tiga jam perjalanan, pantat saya sudah panas, akhirnya terpaksa saya mengubah posisi duduk secara random. Beda dengan cik mithong, baru 2 jam perjalanan sudah ke kamar mandi tanpa air 3x hihihi, tapi bagaimanapun perjalanan kali ini tak terasa berat buatnya. Apapun itu transportasinya, apapun itu bahan tempat duduknya tak jadi soal, karena ada sesuatu yang membuat dirinya nyaman dan empuk.

Perjalanan ini seru, ya seru. Kenapa seru karena saya bisa merasakan sumpeknya kereta ekonomi. Setiap 17 detik pedagang asongan lewat, menjajakan rokok, akuwa, mijon, korek jablai, buah apel dan buah jeruk yang setiap lewat harganya turun, dari 10 ribu dapat 30 buah menjadi 5 ribu 30 dapat buah.

Bukan hanya itu gaya bahasa merekapun kocak, di Jakarta dan sekitarnya masih dengan style Jakarta aseli, mulai masuk Karawang ke arah Bandung logat sunda tidak ditinggalkan seperti: fanta menjadi pararanta, sprite menjadi salaleprit, tahu menjadi tararahu. Masuk daerah Ciamis gaya campur sunda dan jawa ngapak-ngapak mulai terdengar. Ada salah satu pedagangwati apel yang dari jauh sudah berteriak dengan manja, “Sing gede di dol, sing gede di dol..Ngemek gratis..Ngemek gartis” .

Waks, kontan satu gerbong yang rata-rata batangan itu terkaget begitupun saya (ah dasar saya aja yang saru minded) saya pikir istilah “ngemek” itu apa? saya pikir dari kata dasar meki eh ternyata demek yang arti memegang. Coba bayangkan kalo ngemek itu, benar-benar dari kata dasar meki, betapa senang si pitek dapet gratisan meki.

Kereta kadang kala harus berhenti guna memberi jalan kereta eksekutif, bahkan kadang demi kereta barang, kereta ini harus mengalah juga. Sampai adzan subuh menyaut-nyaut saya masih terjaga, ditemani Lucky Strike Menthol dan 4 gelas kopi. Saya sungguh miris melihat , bayi yang menangis kegerahan, nenek yang boyoknya sakit, lelaki yang tertidur dilorong, pedagang yang mengeluh. Saya tersenyum kecut, tengik betul pemimpin negeri ini.

Disisi lain saya tersenyum senang melihat penumpang lain,sepasang suami istri yang harus bergantian duduk, sepasang muda mudi dengan mesra memijit kaki, lelaki berkulit putih mendengarkan tarling dari IPOD shuffle, wanita berjubah merah tampak mewah sekali ditengah-tengah penumpang ndeso ini. Apa yang membuatmu senantiasa sabar dan senang diperjalanan ini hai kawan?

Akhirnya pukul 07.00 Minggu pagi kami sampai di Gandrung Mangun, stasiun terdekat dengan Bangsari. Dan kembali cik mithong berurusan dengan kamar mandi, pitek yang mendadak banci foto dan film. Perjalan ke Bangsari belum lah usai, perlu 20 menit menggunakan bis 3/4 ke arah pertigaan singgil. Singgil itu pintu gerbang menuju desa Bangsari, turun di pertigaan singgil, rombongan masih harus berjalan kaki sekitar 2 km menuju tempat kami menginap yang tak lain rumah orang tua ipoul.

Dengan perasaan lega , kaki yang bengkak karena semaleman jongkok, ngantuk dan telephone wanita setengah baya dari timur jauh yang membuat mengepalkan tangan berkali-kali. Bantal, kasur empuk jadi impian pagi itu, tapi sayang kami dipaksa tuan rumah untuk menyantap makanan khas bangsari, sayur rebung lezat, asam manis belut hasil sawah desa bangsari, opor daging mentok (mentok bukan bebek loh !), teh hangat, dan makanan kecil khas kampung beli dipasar bangsari. Ini baru seujung kuku kawan, besok ada postingan baru !!

P.S: Tunggu saja upload photonya, video klipnya dan cerita selanjutnya : Acara survey kambing , Profil anak penerima kambing, Balada Megaloman si maling air hangat, Cerita Benteng Tiga Lantai Nusakambangan

45 Responses to “Cerita Bangsari - Perjalanan”

  1. leksa Says:

    ada paket liburan ke nusakambangan juga??
    wuih ,.. keren Bangsari on the tour ini :(

  2. pacul Says:

    bul..rasah melui bali ngancani amrozi bae nang nusakambangan

  3. Hedi Says:

    tahun baru di rumah Ndobos

  4. annots Says:

    Tahun baruan Kopdar van Jogja to ya….

    Btw, selamat tahun baru untuk kolonel :D

  5. Jeng Indie Says:

    Slamat Tahun Baruuuuuuu !!!
    Smoga tambah cakepppp .. hihihi mang cakep ya *bertanya polos*

    Salam Kumpak!!!

  6. iman brotoseno Says:

    hiu bakar ?? pasti baby shark…
    ( selamat tahun baru 2008 )

  7. kw Says:

    wah menarik sekali bul… jarene meh ora mrono. salam semangat kanggoo hamdan yak :)

  8. ndoro kakung Says:

    gobaksodor [was "go back to the door"] itu kenangan masa kecil yang menyenangkan memang …

  9. ronggur Says:

    wadoooh.. mantap.. bermakna banget tahun baruan mu bul.. *ngiriii :((*

  10. The Sandalian Says:

    Maap ndak bisa ikut ke Bangsari..

  11. hams Says:

    Nusakambangan..???
    emang bagus pemandangannya..??

  12. Anang Says:

    tahun baru ngorok!

  13. tikabanget™ Says:

    SAYAH NDAK IKUT!!!
    DAN ITU GARA GARA ANDA..!!!
    HUH..!!!!

  14. tikabanget™ Says:

    tapi tergantikan dengan ma rafting trus airsoftgun..
    huhuhu..
    PUWAASSSS..!!!!

  15. tikabanget™ Says:

    untung ndak ikut ke bangsari.. **loh??!!**

  16. iway Says:

    ada kambing-kambing ga? pesen 5 yo le :D

  17. maruria Says:

    Pancen mantap penjelajahan kita itu ya mbul..Biarpun diwarnai dengan kambuhnya sakitmu. Yang penting dah sembuh karena hiu bakar itu kan?? Kekekeke…

    @ pacul : amrozi dah mau di eksekusi mas…
    @ ndoro kakung : main gobak sodor juga to, ndoro?
    @ tika banget : Hah..?! Diapain kamu sama balibul?
    @ hams : Kamu harus buktikan sendiri, baru komentar…

  18. maruria Says:

    Mbul..ditunggu foto-fotonya…

  19. bahtiar Says:

    akhirnya mita … :)

  20. sarah Says:

    Hiu bakar opo rasane mas?
    Happy new year yah…

  21. mikow Says:

    Tahun baru nggak kemana-mana, kumpul sama anak-istri ajah..

  22. omith Says:

    @bahtiar: kenapa aku mas? :(

  23. escoret Says:

    weiiijannnnn..!!!!
    postingane dowo bgt..!!!

    [....] Perjalanan ke bangsari dimulai pukul 19.15 dari stasiun KOTA, naik kereta ekonomi jurusan KROYA, Saya, Pitek, Ipoul, Cik Mithong, Jakober dan sejawat dikantor Ipoul berada disatu gerbong.

    Ini untuk pertama kalinya saya naik kereta ekonomi dengan jarak jauh, yah kalo KRL Ekonomi bogor-kota sudah hafal betul apalagi waktu saya, jadi buruh diperusahaan media dicikini tapi itu sudah 2 tahun lalu. Jakarta - Bogor PP tiap hari. Naik digerbong 6, penumpang sudah sesak ternyata, berkawan kepul rokok, dan teriakan pedagang menjajakan dagangan.

    Ternyata nomor kursi ditiket kami, sudah ada yang mendudukinya, dengan terpaksa kami meminta mereka untuk tukar tempat. Awalnya mereka sopan tapi sayang ujungnya pake menggerutu, saya jadi naik darah. Untung saja ada pitek yang menahan he he he, saya bisa kurus dikeroyok mereka dan mungkin orang satu gerbong.

    Perjalanan dimulai, kereta meninggalkan stasiun KOTA menuju Kab.Cilacap tepatnya stasiun Gandrung Mangun. Saya baru tahu kalo kereta ini lewat jalur selatan, dari Jakarta ke arah Bandung dilanjutkan ke selatan Tasikmalaya, Ciamis dan Cilacap begitulah kata kang mas jakober yang ternyata adik angkat ipoul si eksekutif muda itu.

    Baru tiga jam perjalanan, pantat saya sudah panas, akhirnya terpaksa saya mengubah posisi duduk secara random. Beda dengan cik mithong, baru 2 jam perjalanan sudah ke kamar mandi tanpa air 3x hihihi, tapi bagaimanapun perjalanan kali ini tak terasa berat buatnya. Apapun itu transportasinya, apapun itu bahan tempat duduknya tak jadi soal, karena ada sesuatu yang membuat dirinya nyaman dan empuk.

    Perjalanan ini seru, ya seru. Kenapa seru karena saya bisa merasakan sumpeknya kereta ekonomi. Setiap 17 detik pedagang asongan lewat, menjajakan rokok, akuwa, mijon, korek jablai, buah apel dan buah jeruk yang setiap lewat harganya turun, dari 10 ribu dapat 30 buah menjadi 5 ribu 30 dapat buah.

    Bukan hanya itu gaya bahasa merekapun kocak, di Jakarta dan sekitarnya masih dengan style Jakarta aseli, mulai masuk Karawang ke arah Bandung logat sunda tidak ditinggalkan seperti: fanta menjadi pararanta, sprite menjadi salaleprit, tahu menjadi tararahu. Masuk daerah Ciamis gaya campur sunda dan jawa ngapak-ngapak mulai terdengar. Ada salah satu pedagangwati apel yang dari jauh sudah berteriak dengan manja, “Sing gede di dol, sing gede di dol..Ngemek gratis..Ngemek gartis” .

    Waks, kontan satu gerbong yang rata-rata batangan itu terkaget begitupun saya (ah dasar saya aja yang saru minded) saya pikir istilah “ngemek” itu apa? saya pikir dari kata dasar meki eh ternyata demek yang arti memegang. Coba bayangkan kalo ngemek itu, benar-benar dari kata dasar meki, betapa senang si pitek dapet gratisan meki.

    Kereta kadang kala harus berhenti guna memberi jalan kereta eksekutif, bahkan kadang demi kereta barang, kereta ini harus mengalah juga. Sampai adzan subuh menyaut-nyaut saya masih terjaga, ditemani Lucky Strike Menthol dan 4 gelas kopi. Saya sungguh miris melihat , bayi yang menangis kegerahan, nenek yang boyoknya sakit, lelaki yang tertidur dilorong, pedagang yang mengeluh. Saya tersenyum kecut, tengik betul pemimpin negeri ini.

    Disisi lain saya tersenyum senang melihat penumpang lain,sepasang suami istri yang harus bergantian duduk, sepasang muda mudi dengan mesra memijit kaki, lelaki berkulit putih mendengarkan tarling dari IPOD shuffle, wanita berjubah merah tampak mewah sekali ditengah-tengah penumpang ndeso ini. Apa yang membuatmu senantiasa sabar dan senang diperjalanan ini hai kawan?

    Akhirnya pukul 07.00 Minggu pagi kami sampai di Gandrung Mangun, stasiun terdekat dengan Bangsari. Dan kembali cik mithong berurusan dengan kamar mandi, pitek yang mendadak banci foto dan film. Perjalan ke Bangsari belum lah usai, perlu 20 menit menggunakan bis 3/4 ke arah pertigaan singgil. Singgil itu pintu gerbang menuju desa Bangsari, turun di pertigaan singgil, rombongan masih harus berjalan kaki sekitar 2 km menuju tempat kami menginap yang tak lain rumah orang tua ipoul.

    Dengan perasaan lega , kaki yang bengkak karena semaleman jongkok, ngantuk dan telephone wanita setengah baya dari timur jauh yang membuat mengepalkan tangan berkali-kali. Bantal, kasur empuk jadi impian pagi itu, tapi sayang kami dipaksa tuan rumah untuk menyantap makanan khas bangsari, sayur rebung lezat, asam manis belut hasil sawah desa bangsari, opor daging mentok (mentok bukan bebek loh !), teh hangat, dan makanan kecil khas kampung beli dipasar bangsari. Ini baru seujung kuku kawan, besok ada postingan baru !! [.....]

    tapee dehhhh

  24. annots Says:

    Aku tertarik sama hiu bakar yang di ceritakan, nasib yen gak melu mung kecritan :D

  25. omith Says:

    @ jembambul :
    “Perjalan ke Bangsari belum lah usai, perlu 20 menit menggunakan bis 3/4 ke arah pertigaan [SINGGIL] .”

    SINGGIL sing bener SITINGGIL :p

    pantesan keleru terus nyebut maruria aja salah jadi marurira kadang sampe nyebut nama ku juga keleru TIKA

    **ahahahahh** ia ia nanti liburan 2 minggu lagi ke JOGYA okeh.. :p

  26. koeaing! Says:

    ik perna kebokeran di gandroeng mangoe itoe poen, spoor setan itoe….

  27. escoret Says:

    [....] pantesan keleru terus nyebut maruria aja salah jadi marurira kadang sampe nyebut nama ku juga keleru TIKA [...]
    bener cik omit..!!!!

    *injek2 juragan 3gp ini*

  28. Resi Bismo Says:

    halo kang, salam kenal, kudhu ne, numpak sepur sekang gambir, numpak purwojaya pasti mamdan kepenak, tapi larang yah?

  29. aprikot Says:

    tahun baru mendengarkan curhatan sang pujangga cinta, sopo yo? hahahahhahaa

  30. Resi Bismo Says:

    saya sih belum pernah ke bangsari, paling banter cuma sampe kesugihan, karena nenek saya alm. asli daerah situ.
    Saya biasanya ke pwt dulu, baru naik bis ke cilacap. Kalo nyokap suksanya naik dari tanah abang trus turun di stasiun lebeng.

  31. ekowanz Says:

    emang kl numpak sing ekonomi ki rame, apalagi kl bareng2…
    met taon baru kang..mari melompat lebih tinggi..

  32. wong-cilik Says:

    hore…….. :D

  33. antobilang Says:

    sori kang aku ra sido melu bangsari. jancuk ki, akhir tahun tetep ae mburuh.

  34. icha Says:

    wah aku dulu paling suka banget makan hiu dibikin sayur asam pedas…nyaaammm jd kangen..
    btw met taun baru yah

  35. maruria Says:

    Lanjuuut mbul….

    @ omith :
    [...]pantesan keleru terus nyebut maruria aja salah jadi marurira kadang sampe nyebut nama ku juga keleru TIKA[...]
    Iya nih mith..padahal dah dikoreksi berkali-kali. Tapi ah sudahlah..suka-suka mu lah mbul…

    @ resi bismo :
    Lain kali kalo ke cilacap, kita kumpul2 yooo….

  36. imsuryawan Says:

    Wah ini postingan panjang kedua yang saya baca hari ini! :D Panjang buangeeetsss! :D Salam kenal!

  37. Funkshit Says:

    “menyantap makanan khas bangsari, sayur rebung lezat, asam manis belut hasil sawah desa bangsari, opor daging mentok (mentok bukan bebek loh !), teh hangat, dan makanan kecil khas kampung beli dipasar bangsari”

    maap.. tapi mungkin saya yang kurang teliti…yang nyebutin makan hiu bakar di sebelah mana tho. Saya kayaknya pengin makan rebungnya deh .. .

  38. morishige_turun_gunung Says:

    *menunggu posting kedua..

  39. unai Says:

    walah jongkok semalaman? gek metu sisan kae sing nang jero? hehe piss Bul…asli aku nyesel bianget gak ketemu kowe :(

  40. sezsy Says:

    aduh..meni banyak yang ngararomen ih…

  41. pitik Says:

    banci foto dan film??taeekkkk!!
    tak kremus ndhogmu!!

  42. stey Says:

    weeeehhh..keren..ikuuuuuuuutttt!!!!*ngintil mode on*

  43. zam Says:

    pengen..

  44. siw Says:

    aku kok nggak dijak toh Kangmas?

    :cry:

    arep nggolek bojo maneh ya, neng kono? pake acara nyumbang nggo nggolek simpati ya?

    :mrgreen:

  45. Episode Jeng-jeng Nusakambangan « Episodes of My Journey Says:

    [...] better next time…:D Dan saat makan siang-menjelang-sore itulah Sang Kolonel langsung posting cerita jalan-jalan ini di blognya. Heuheu..betul-betul blogger [...]

Leave a Reply