Minggu siang di Bangsari tidak terasa begitu panas, desa di kecamatan bantarsari ini cederung sepi karena diwaktu dzuhur jarang sekali orang belalu lalang. Hanya sesekali suara traktor meraung-raung sayup.

Desa yang dikelilingi pondok pesantren kecil-kecil ini sangat teduh. bagaimana tidak kanan-kiri pepohonan dimana-mana, sawah terbentang luas. Menurut ayahanda Ipoul, desa bangsari baru merasakan nikmatnya listrik setelah tahun 2000. Begitupula dengan saluran irigasi yang membelah desa ini.

Hal ini terjadi karena korban rezim beringin kuning, didesa ini bendera bintang hijau cap no 1 berkibar kencang didesa ini yang memang mayoritas 98% muslim. Sebelum ada saluran irigasi, banjir jadi langganan bila hujan deras datang. Malang nian nasib petani disana sebelum ada saluran irigasi.

Siang itu agenda kami, mensurvey kambing hasil donasi para blogger. Awak pasukan bersiap-siap, pitek dengan celana koboi plus camera pinjaman wanita melayu bermata sayu, mitha dengan gaya khas wanita london dimusim semi plus camera super keren bak photograper, saya cukup dengan handy cam dan Ipoul menjadi menjadi togog siang itu, dengan kacamata mirip john tarvolta, dia superstar di desanya. Ditambah de brandal dari semarang pepeng yang bertugas nganthi ipoul.

Dari 18 anak yang diberi donasi tidak semua kami survey, karena jauhnya medan, kondisi cuaca yang bersahabat dan matahari yang terlalu cepat pergi. Saya ndak akan satu-satu bercerita bagaimana kami mblusukan dari kandang ke kandang. Sekedar bau tahi kambing, tersangkut dahan pohon, terpleset, atau rute yang berbelok-belok nan terjal itu ah kami nikmati santapan siang itu. Ketika kami berkunjung, tidak setiap anak sedang ada dirumah. Maklum kegiatan mereka beragam sekali, ada yang masih mencari rumput, ada yang membantu ibu mengiup tungku dan ada yang baru pulang mengaji.

Yasrofi, kelas 1 Aliyah ini, mungkin tertua dari teman-teman lainnya penerima kambing. Badannya terlihat bongsor, baru pulang mencari rumput tampak dipinggangnya terdapat golok yang masih basah embun rumput. Si bongsor ini dapat dua kambing, cita-citanya ingin meneruskan kuliah ke teknik mesin setelah lulus aliyah. Saya tidak tau apakah 2 ekor kambing bisa memodalinya ke kampus tapi bukan itu yang saya liat. Kambing sumbangan ini setidaknya memberi motivasi untuk tetep belajar lebih tingkatan lebih tinggi.

Wiwi, gadis kurus dan pemalu ini, ketika kami datang sedang meniup tungku didapur ini awalnya enggan keluar rumah. Mungkin dia heran, ada apa kok rame-rame dipekaranganya, mungkin takut melihat rambut cik mithong yang berkelap-kelip merah ungu itu, ah saya cuma menebak loh cik. Wiwi kelas 2 Mts di Mts Swasta Salafiyah Bangsari. Untuk sementara waktu kambingnya diurusi oleh ayahandanya. Namun tetap saja acara memberi makan kambing wiwi yang melakukan dilakukan selepas sekolah. Wiwi dengan jujur ebih memilih sekolah sampai sarjana daripada putus sekolah lalu pergi ke arab jadi PRT disana. Ah hidupkan emang pilihan, kami hanya bisa mengamini.

Hamdan, satu angkatan dengan wiwi, yatim, dua bersaudara ini, menjadi trigger program ini. Ditinggal ayah sejak kecil, kondisi ekonomi mengandalkan ibunda yang kerja serabutan tidak menyurutkan hamdan meneruskan sekolah. Hamdan inilah yang pada awalnya meminta ke dewan sekolah untuk dipinjami kambing dengan sistem bagi hasil. Hamdan sangat bersemangat, dia seolah mengerti betul solusi untuk tetap melanjutkan bersekolah dengan memelihara kambing, yang suatu kelak bisa dijual bila membutuhkan dana pendidikan. Remaja yang bercita-cita membangun desanya suatu kelak itu berteriak optimis di handy cam milik saya. Katanya SEMANGAT NGARIT SEMANGAT SEKOLAH !! :D

Saya jadi teringat novel andrea hirata “laskar pelangi” yang menggugah itu, hari sudah senja dan hujan mulai deras. Rombongan berpamitan dan memberikan oleh-oleh kecil. Perjalanan pulang, saya merenung, teringat masa kecil saya, teringat ponakan-ponakan saya, dan teringat kawan sejawat saya yang lulus STM informatika 4 tahun gara-gara kekurangan dana sekolah yang kini jadi andalan artificial intelegence dipabriknya. Hari ini begitu menguggah saya. Ternyata dibagian Indonesia lain, dengan kondisi minim, keterbatasan fasilitas, ada anak-anak bangsa yang sadar bahwa sekolah itu penting, sekolah itu suatu kebutuhan, mereka ingin sekolah.

Perjalanan pulang saya banyak melihat rumah yang masih terbuat dari bambu, geddek kata orang jawa bilang. Yang kalo terbakar tidak sampe 10 menit dinding rumah ludes. Di bangsari ini sedikit sekali rumah dengan dinding berbatu bata, kata Ipoul. Rumah yang berbatu bata itu biasanya ibunya atau anak perempuannya pergi jadi tkw ditanah arab.
Hanya ada tiga rumah yang berbatu bata tapi tidak hasil dari nguli di tanah arab salah satunya adalah rumahnya, ujarnya bangga. Pantas saja sehari saya disana saya jarang melihat wanita. Atau inikah yang jadi alasan, juragan kambing itu memilih megaloman. Ndak ding cuma just kidding kok.

Malam ini saya kembali melihat rekaman film dari handy cam saya di bangsari, saya hanya mengerutkan dahi, terharu, bangga, terkadang lucu dan bergumam haduh mulia sekali menjadi blogger penyumbang itu wakakakak. Saya udah nyumbang belum yah? Pekok !! Wakakak.

33 Responses to “Cerita Bangsari - Semangat Ngarit Semangat Sekolah”

  1. dahlia Says:

    walopun blum liat rekaman handycamp-nya plus foto foto. crita cukup mewakili..jadi ikut terharu hiks :( tetep semangat ya tim “kambing” :)

  2. pakdhe endik Says:

    mitha nyanyi ndangndut ora?

  3. mrbambang Says:

    Jadi terharu mas, sayang sekali gak bisa ikut. Kemarin masih krja euy. Baca itu juga jadi teringat film Denias yang menyentuh itu, tentang bagaimana seorang anak di pedalaman irian yang memiliki semangat sangat tinggi untuk sekolah hingga sampai empat hari menuju kota karena ingin menjadi murid sd, sekarang denias kuliah di australia. Semoga semangat tersebut tetap mengilhami adik adik kita untuk sekolah belajar yang rajin. Ahh.. Kenapa saya yang bisa sekolah dengan lancar tapi semangat belajar serta prestasinya malah biasa saja.

  4. stey Says:

    klo mo ikutan gimana ik mas?

  5. kw Says:

    blogger penyumbang emang (agak) keren! :)
    foto-fotonya mana bul? cepetan di uplod
    juga postingan wisata kuliner, nusakambangannya yaa

  6. p3m4 Says:

    eit…….inspiring story!!!!

  7. aprikot Says:

    skrinsut bal skrinsut

  8. bahtiar Says:

    iyo …

    tulisan tok … :(

  9. Mutz Says:

    jadi penasaran pengen ngeliat desa Bangsari yang teduh itu..

  10. unai Says:

    Terharu baca tulisan ini Bul..

  11. pitik Says:

    babarblas ga ono cewek neng bangsari!!

  12. maruria Says:

    Mbul..aku mrinding moco tulisanmu. Terharu. Terutama pas bagian yang ini : [...]Remaja yang bercita-cita membangun desanya suatu kelak itu berteriak optimis di handy cam milik saya. Katanya SEMANGAT NGARIT SEMANGAT SEKOLAH !! :D[...]Huks..

    Caramu menulisakannya benar-benar mengena.

  13. wong-cilik Says:

    potonya dong………

  14. pinkina Says:

    iyho koyok critane Andrea Hirata, salut dengan semangatnya untuk tetap sekolah bagaimanapun keadaannya

  15. antobilang Says:

    jancuk, merinding aku kang :(

  16. mikow Says:

    rambut berwarnanya mitha bisa jd trend di bangsari ga ya? :)

  17. Hedi Says:

    didesa ini yang memang mayoritas 98% muslim

    lha sing 2% opo bul?

  18. funkshit Says:

    ceritane mantepp.. tapi lebih siip klo ada skrinsyuuuut donks

  19. tikabanget™ Says:

    lha udah nyumbang blm jeh situ?

  20. ronggur Says:

    begidik…

    ternyata masih banyak ’sepertinya’ yang memang benar2 mau sekolah. Kontras banget ya sama yang ada disini, malah banyak anak2 yang males sekolah & lebih milih ke mall,mojok lalu ngudut…

    semoga misi kambing for bangsari bisa berlajut terus

    SEMANGAT NGARIT SEMANGAT SEKOLAH !!

  21. zam Says:

    ditunggu 3gp-nya, gan..

    sundul, ah..

    UP! UP! UP!

  22. hams Says:

    lha saya yang mampu sekarang malah nda’ kuliah..
    bosen dikejar-kejar deadline..
    harus ini lah..itu lah..

    tapi saya paham kok..
    itu memang paradigma orang Indonesia..
    sekolah, kuliah, terus dapat penghasilan yang bagus..
    model jaman dulu..
    padahal yang ngga’ sekolah pun juga bisa berhasil..
    semoga mereka bisa mengetahui hal ini..

    terlepas dari hal itu..
    saya jadi ingat saat-saat saya sangat mementingkan pendidikan formal..
    ketika saya masih duduk di SMA..
    saya dulu juga seperti mereka..

  23. pacul Says:

    semangat..semangat..

    ngakak moco komene zam.

  24. nothing Says:

    sekolah larang gara-gara negoro asyu, presiden Susi cuman ngurus perutnya dewe…
    semoga kambing nya barokah, sekolah duwur mbangun negoro ben luweh becik

  25. rehesa Says:

    great…

  26. Anang Says:

    semoga kegiatan ini memberikan inspirasi bahwa setiap warganegara dilindungi undang2 akan haknya mendapatkan pendidikan yang layak… negara harus memperhatikan rakyatnya dong…

  27. sezsy Says:

    terharu juga..

  28. escoret Says:

    bul….fotone kok ra ono….
    iki tak ke’i…
    mangap….*NYOHHHHH*

    : http://escoret.net/blog/wp-content/uploads/2008/01/bangsari.JPG

  29. omith Says:

    hasil suting e wes mbok edit tah mbul?

  30. andi bagus Says:

    agenda nya sangat mulia sekali..salut..

  31. ariawan Says:

    weehh.. ke bdg ga ajak ajak yaaa…

  32. sluman slumun slamet Says:

    hidup KAMBING!
    :P
    ckckckc komen-nya cak anang kaya kampanye partai banteng ketaton aja!
    :P

  33. Sekilas Bekisar « antobilang™ Says:

    [...] taulan dan kerabat bloger dermawan lainnya, dapat terkumpul sejumlah dana yang kini menyambung semangat sekolah para anak Bangsari yang nyatanya jauh lebih heroik dibandingkan dengan semangat sekolah anak-anak kota lainnya. Event [...]

Leave a Reply